Home / Nasional / Religi

Minggu, 23 Maret 2025 - 10:59 WIB

Malam Lailatul Qadar, Apakah Hanya Ada di Bulan Ramadan atau Bisa Terjadi di Waktu Lain?

Ilustrasi. (Foto : Istimewa)

Ilustrasi. (Foto : Istimewa)

LAILATUL Qadar adalah malam yang penuh dengan keberkahan dan kemuliaan. Lailatul Qadar menjadi malam yang sangat dinantikan oleh setiap Muslim.

Dikenal sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam ini memberi kesempatan bagi setiap Muslim untuk memperoleh ampunan dan rahmat Allah SWT.

Meskipun tidak ada yang dapat memastikan kapan terjadinya Lailatul Qadar, namun mayoritas ulama sepakat bahwa malam ini terjadi pada bulan Ramadan, khususnya pada sepuluh malam terakhir, dengan kemungkinan besar terjadi pada malam-malam ganjil.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya: “Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan” (HR. Bukhari)

Lantas, apakah malam Lailatul Qadar hanya terjadi di bulan Ramadan, atau adakah kemungkinan terjadi di waktu lain?

Dilansir dari NU Online, menurut mayoritas ulama, lailatul qadar terjadi pada bulan Ramadan, meskipun tidak diketahui secara persis kapan waktunya. Namun bila diperhatikan dari kebiasaan Rasulullah, beliau sangat bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh terakhir Ramadan.

‘Aisyah mengatakan, “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadan, Nabi fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah,” (HR. Al-Bukhari).

Dalam riwayat lain, Rasulullah memerinci lailatul qadar biasanya terjadi malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadan. Rasulullah berkata:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ

Artinya: “Carilah lailatul qadar pada malam ganjil sepuluh terakhir Ramadan,” (HR. Al-Bukhari).

Kendati ulama sepakat lailatul qadar terjadi bulan Ramadan, namun sebagian ulama mengatakan lailatul qadar juga ada pada bulan yang lain. Penjelasan ini sebagai disebutkan Abdul Wahab As-Sya’rani dalam Mizanul Kubra. Ia menjelaskan:

إن ليلة القدر في شهر رمضان خاصة مع قول أبي حنيفة إنها في جميع السنة، فالأول مشدد والثاني مخفف

Artinya: “Lailatul qadar terjadi bulan Ramadan saja, namun menurut Abu Hanifah juga bisa terjadi pada setiap bulan. Pendapat yang pertama ketat, sementara pendapat kedua lebih longgar.”

Baca Juga : Umat Nabi Muhammad Pasti Dapat Lailatul Qadar, dengan Syarat Ini Kata Gus Baha

Argumentasi pendapat pertama sangatlah banyak. Ada banyak dalil yang menjelaskan bahwa lailatul qadar terjadi pada bulan Ramadan. Salah satunya adalah hadis yang dikutip di atas.

Sementara argumentasi pendapat kedua, yang menyatakan lailatul qadar bisa terjadi tiap bulan bahkan tiap hari didasarkan pada ilham dan pengalaman spiritual.

‘Ali Al-Khawwas mengatakan:

ليلة القدر هي كل ليلة حصل فيها للعبد تقريب من الله تعالى، قال: وهو منزع من قال إنها في كل السنة وأخبرني أخي الشيخ أفضل الدين أنه رآها في شهر ربيع الأول وفي رجب. وقال معنى قوله تعالى “إنا أنزلناه في ليلة القدر” أي ليلة القرب فكل ليلة حصل فيها قرب فهي قدر

Artinya: “Lailatul qadar adalah setiap malam di mana manusia mendekatkan diri kepada Allah. Inilah dasar pendapat orang yang mengatakan lailatul qadar ada di setiap bulan. Saudaraku, Syeikh Afdhaluddin menceritakan bahwa ia melihat lailatul qadar pada bulan Rabiul Awwal dan Rajab. Karena itu, maksud ayat ‘Inna Anzalnahu fi Lailatul Qadr’ adalah malam pendekatan. Setiap malam yang bisa mendekatkan (hamba kepada Tuhan) adalah lailatul qadar.”

Pemahaman kelompok kedua terhadap lailatul qadar lebih umum daripada pendapat pertama. Mereka memahami bahwa lailatul qadar adalah setiap malam yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah. Malam pendekatan itu tentu tidak hanya terjadi pada bulan Ramadhan, tapi juga bisa terjadi pada bulan lain. Bahkan dalam hadis disebutkan:

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Artinya: “Rahmat Allah turun tiap malam ke dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Kukabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, akan Kuberi; siapa yang mohon ampun kepada-Ku, akan Kuampuni,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan rahmat Tuhan turun tiap hari, khususnya di pertengahan malam. Sebab itu, dianjurkan memperbanyak ibadah pada pertengahan malam.

Dengan demikian, sebetulnya titik temu dari dua pendapat ini bisa dicari. Perbedaan kedua pendapat ini terletak pada pendefinisian lailatul qadar itu sendiri.

Kalau yang dimaksud lailatul qadar adalah malam pendekatan diri, maka itu bisa saja terjadi pada bulan yang lain, karena Allah SWT selalu membuka pintu rahmat-Nya.

Adapun kalau yang dimaksud lailatul qadar adalah bulan yang paling mulia dibanding seribu bulan, sebagaimana dipahami banyak orang, maka kemungkinan besar hanya terjadi di bulan Ramadan. Wallahu a‘lam.

Sumber : Liputan6.com

Share :

Baca Juga

Ketua DPRD Balangan, Ahsani Fauzan saat membaca surat Yasin di malam Nisfu Sya’ban. (Foto : Istimewa)

Advertorial

Ketua DPRD Balangan Harapkan Tingkatkan Kualitas Keimanan Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Advertorial

Ketua DPRD Balangan Gelar Open House, Pererat Silaturahmi dengan Warga

Advertorial

Pemkab Kotabaru Gelar Peringatan Maulid Nabi 1447 H di Masjid Apung

Berita Terkini

Daftar Kontroversi DPR di Tengah Tunjangan Jumbo Ratusan Juta Rupiah

Advertorial

PLN Masuk Jajaran 10 Besar Perusahaan Terbaik Asia Tenggara Versi Fortune

Advertorial

Aksi Sinergitas Merah Putih dan Tabligh Akbar, Bupati Tanbu : Sinergi Kunci Kemajuan Daerah

Advertorial

Jemaah Haji Tanbu Dijadwalkan Tiba 4 Juli

Advertorial

Sejarah, Safari Ramadan 1447 H, Bupati Andi Rudi Latif Buka Puasa Bersama Warga Binaan Lapas Kelas III Batulicin