AMUNTAI, wasaka.id – Anggota Komisi VIII DPR RI Sandi Fitrian Noor menunjukkan rasa kepeduliannya terhadap dunia Pendidikan di Kalimantan Selatan (Kalsel) khusunya di daerah dengan menghadiri sekaligus membuka Seminar Pendidikan Islam dengan Tema Penyusunan Asesmen Berbasis HOTS di Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Kehadiran Bang Sandi saapan akrab anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar ini mendapat sambutan hangat dari para peserta yang dihadiri seluruh kepala sekolah dan wakil kepala sekolah Madrasah se Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Pada kesempatan tersebut, politisi muda Banua ini menyambut baik dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya acara seminar Pendidikan Islam yang mengusung tema ‘Penyusunan Asesmen Berbasis HOTS’.
Menurutnya tema tersebut sangat strategis karena menyentuh salah satu persoalan mendasar dalam peningkatan mutu pendidikan Islam, yaitu bagaimana mengukur dan mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik.
“Selama ini, sebagian praktik penilaian di madrasah masih terjebak pada hafalan dan ingatan semata. Padahal, pendidikan Islam memiliki warisan intelektual yang sangat kaya, yang mendorong umatnya untuk berpikir, menalar, dan merenungkan,” ungkap Sandi Fitrian Noor.
Baca Juga : Anggota Komisi VIII DPR RI Sandi Fitrian Noor Buka Seminar NGOPI: Dorong Gerakan Madrasah Peduli Lingkungan
Bang Sandi juga menyampaikan Al-Qur’an berkali-kali menggunakan ungkapan seperti afala ta’qilun, afala tatafakkarun, dan la’allakum yatafakkarun, yang semuanya mengajak manusia menggunakan akal secara mendalam. Allah SWT juga memuji orang-orang yang berakal dengan sebutan ulul albab, yaitu mereka yang mengingat Allah sambil berpikir tentang penciptaan langit dan bumi.
Asesmen Berbasis HOTS atau Higher Order Thinking Skills, disampaikan Sandi adalah upaya untuk mengukur kemampuan peserta didik tidak hanya pada level mengingat dan memahami, tetapi juga pada level menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
“Dengan asesmen yang baik, guru dapat mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, menghubungkan pelajaran dengan kehidupan nyata, serta mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai Islam,” ujanya.
“HOTS bukan sekadar soal sulit, tetapi soal yang membuat peserta didik berpikir lebih dalam dan lebih bermakna.
Hadirin yang berbahagia,
Penyusunan asesmen berbasis HOTS di madrasah tentu memerlukan kesiapan,” sambungnya.
Selain itu Sandi juga mengungkapkan, guru harus dibekali kemampuan menyusun soal yang baik, memahami tingkat kesukaran, mampu membuat stimulus yang kontekstual, serta dapat mengaitkan materi dengan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal Banua.
“Pengawas madrasah dan tim penelaah soal juga harus diperkuat, agar asesmen yang dihasilkan benar-benar valid, reliabel, dan mampu mendorong perbaikan pembelajaran,” bebernya.
Sandi Fitrian Noor juga mengharapkan ingin menekankan bahwa peningkatan mutu asesmen bukan semata-mata urusan teknis. Ia adalah bagian dari upaya menghadirkan pendidikan Islam yang membebaskan, yang mencerdaskan, dan yang mampu melahirkan generasi yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga tajam dalam berpikir dan peka terhadap persoalan umat dan bangsa.
Sehingga kata dia, melalui forum ini, berharap para peserta dapat berdiskusi secara terbuka, berbagi pengalaman, dan merumuskan langkah-langkah praktis yang bisa diterapkan di madrasah masing-masing.
“Mari kita jadikan penyusunan asesmen berbasis HOTS sebagai bagian dari ikhtiar kita mencetak generasi Islam yang cerdas, kritis, dan berakhlak mulia,” tandasnya.(nas)














