JAKARTA, wasaka.id – Serangan mendadak AS-Israel ke Iran diprediksi memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi ini dikhawatirkan berdampak langsung pada lonjakan harga minyak dunia. Hal itu setidaknhya diungkapkan anggota Komisi XII DPR RI Yulian Gunhar.
Gunhar mengingatkan pemerintah untuk segera mengantisipasi kemungkinan terburuk terjadinya lonjakan harga minyak. Menurutnya, Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak, termasuk dari kawasan Timur Tengah.
“Pemerintah harus bisa mengantisipasi kemungkinan melonjaknya harga minyak dunia. Kita ini masih negara yang bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah,” kata Gunhar, dalam keterangannya, Senin (2/3).
Gunhar juga menyoroti kondisi Selat Hormuz yang kini berada dalam situasi tidak pasti setelah Iran disebut menutup jalur tersebut. Selat Hormuz diketahui melayani lebih dari 20 persen lalu lintas minyak global.
“Selat Hormuz itu jalur vital. Kalau terganggu, distribusi minyak dunia otomatis terdampak. Dampaknya akan langsung terasa pada ketersediaan bahan bakar dalam negeri,” ujarnya.
Baca Juga : Gejolak di Timur Tengah Memanas, DPR Desak Pemerintah Lindungi Ribuan Jemaah Umrah
Ia meminta pemerintah fokus mengantisipasi harga minyak dunia yang berpotensi melonjak tajam jika gangguan distribusi berlangsung lama. Bahkan, menurutnya para pakar energi memperkirakan harga bisa mendekati atau melampaui USD100 per barel.
“Kalau gangguan di Selat Hormuz ini berkepanjangan, harga minyak bisa langsung mendekati bahkan melampaui 100 dolar per barel,” tegasnya.
Kondisi tersebut, lanjut Gunhar, akan menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama pada pos subsidi bahan bakar minyak (BBM).
“Kenaikan harga minyak dunia sudah pasti akan menambah beban berat APBN kita, khususnya untuk subsidi BBM. Ini harus diantisipasi dari sekarang,” ucapnya.
Politisi PDI Perjuangan itu juga meminta pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, untuk segera melakukan koordinasi lintas sektor guna menyiapkan langkah mitigasi.
“Kementerian Keuangan bersama kementerian terkait harus segera melakukan koordinasi lintas sektor untuk menyiapkan langkah mitigasi. Jangan sampai dampak perang di Timur Tengah ini meluas dan mengguncang perekonomian nasional,” pungkasnya.
Kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Terkait konflik Timur Tengah yang terus memanas, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga telah Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2026), untuk membahas antisipasi yang bisa dilakukan terkait pasokan minyak dunia.
“Menyangkut dengan kondisi terkini, geopolitik ya. Menyangkut dengan penutupan Selat Hormuz, Iran,” ujar Bahlil kepada wartawan, sebelum rapat terbatas (ratas) di Kompleks Istana Kepresidenan.
Bahlil juga menjelaskan, isu yang dibahas dengan Presiden Prabowo memang salah satunya berkaitan dengan antisipasi pasokan minyak dunia. Pasalnya, Indonesia masih melakukan impor energi, termasuk menjelang periode Lebaran ketika konsumsi bahan bakar minyak (BBM) meningkat.
Bahlil mengatakan harga minyak mentah dunia, termasuk Brent, perlahan mulai menunjukkan kenaikan setelah situasi di Timur Tengah memanas.
“Perlahan-lahan sebagian sudah ada perubahan harga naik,” katanya.
Meski demikian, dia memastikan bahwa kondisi cadangan bahan bakar minyak nasional masih dalam batas aman.
Terkait dengan dampak terhadap subsidi energi, Bahlil menyampaikan hingga saat ini belum ada masalah. Namun, harga energi global berpotensi mengalami koreksi apabila ketegangan politik terus meningkat.
Bahlil mengatakan akan menggelar rapat bersama Dewan Energi Nasional (DEN) untuk membahas langkah antisipasi atau alternatif guna memastikan pasokan energi dalam negeri tetap aman.
“Besok saya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional. Setelah itu baru saya akan menyampaikan hasil analisa dan kajian dari DEN,” imbuh Bahlil.
Konflik Timur Tengah Memanas
Pada Sabtu (28/2), Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan tersebut merupakan yang kedua dilakukan pemerintahan Presiden AS Donald Trump sejak serangan pertama pada Juni 2025.
Trump menyatakan pasukan Amerika meluncurkan operasi militer besar di Iran untuk melindungi rakyatnya dengan meniadakan ancaman yang disebutnya berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir oleh Iran.
Amerika Serikat dan Iran sebelumnya telah menggelar tiga putaran perundingan tidak langsung mengenai program nuklir Iran yang dimediasi Oman. Putaran pertama dan kedua digelar awal bulan ini di Muscat dan Jenewa, berfokus pada pembatasan pengayaan serta persediaan uranium Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi.
Putaran ketiga perundingan berlangsung pada Kamis (26/2) di Jenewa, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.(ran/sumber)














