YOGYAKARTA, wasaka – Kain Sasirangan Sa-ijaan membawa pesona alam dan budaya pesisir Kotabaru ke panggung nasional. Perpaduan motif khas daerah dengan desain busana modern tampil dalam Jogja Fashion Rendezvous 2026 di Main Atrium Jogja City Mall, Yogyakarta, Sabtu (10/10) malam.
Tak sekadar menampilkan busana, para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) Kotabaru juga memperkenalkan kekayaan lokal melalui karya fashion. Mulai dari hutan Meranti Putih, biota laut, hingga kehidupan masyarakat Bajau Samah di Kampung Nelayan Rampa Berkah, menjadi inspirasi desain yang dibawa ke atas catwalk.
Kontingen Kotabaru tampil dalam tiga sesi peragaan busana. Pada sesi sore, koleksi ready-to-wear atau busana siap pakai ditampilkan melalui kolaborasi NH Collection karya Nur Hikmah dan Sa Shine karya Maisaroh.
Rancangan keduanya memadukan unsur etnik Sasirangan dengan gaya modern yang kasual dan elegan. Kain khas Kotabaru itu diolah menjadi busana yang tidak hanya menonjolkan identitas budaya, tetapi juga mengikuti perkembangan tren mode.
Penampilan berlanjut dengan koleksi cocktail dress dari Ayanda&Co, brand siswa Jurusan Desain Produksi Busana SMKN 1 Kotabaru.
Mereka berkolaborasi dengan The House of Hendri Sadana, menghadirkan rancangan yang menunjukkan kreativitas generasi muda dalam mengembangkan fashion berbasis budaya lokal.
Pada sesi malam, giliran Born.Neo Atelier karya Hariyani berkolaborasi dengan SH Busana milik Siti Hazar yang menampilkan koleksi evening gown.
Gaun malam dengan sentuhan Sasirangan tersebut memperlihatkan bagaimana kain tradisional dapat diolah menjadi busana modern dengan kesan mewah dan anggun.
Kepada Radar Banjarmasin Ketua DPC Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Kotabaru, M Basir, Minggu (11/10) siang mengatakan, tema pesona wisata daerah menjadi konsep utama dalam karya yang dibawa ke Yogyakarta.
“Kami mengusung tema keindahan pesona wisata Kotabaru. Motif Sasirangan yang ditampilkan mengeksplorasi tema Wisata Hutan Meranti Putih, keragaman kekayaan biota laut, hingga keindahan tradisi kehidupan kampung laut masyarakat Bajau Samah di Rampa Berkah,” ujar Basir.
Baca Juga : TP PKK Kotabaru Dukung Literasi Inklusif untuk Tingkatkan Keterampilan dan Kemandirian Perempuan
Menurut dia, keikutsertaan dalam ajang tersebut menjadi pengalaman berharga bagi para desainer dan pelaku ekraf Kotabaru.
Selain memperkenalkan Sasirangan Sa-ijaan kepada pasar yang lebih luas, kesempatan itu juga menjadi ruang bagi talenta muda untuk menunjukkan kemampuan mereka di industri fashion.
Basir berharap, keterlibatan dalam pergelaran berskala nasional dapat mendorong desainer lokal terus berkembang dan membuka peluang pemasaran karya hingga ke luar daerah.
“Sudah saatnya Kotabaru go nasional, bahkan go internasional melalui event-event yang memberikan dampak langsung bagi para pelaku ekraf,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengembangan Sasirangan Sa-ijaan tidak hanya berkaitan dengan pelestarian budaya, tetapi juga berpotensi memperkuat subsektor fashion dan kriya sebagai bagian dari ekonomi kreatif daerah.
“Melalui perpaduan motif tradisional, inspirasi alam, dan desain kontemporer, Sasirangan Sa-ijaan menunjukkan bahwa kekayaan budaya pesisir Kotabaru dapat terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitasnya,” tutupnya mengakhiri.(adv/rez)













